( Dari senyum selebar-lebarnya sampai tangis yang tak bisa dihindarkan )
Dua insan yang makin larut dalam tengkar yang tak berkesudahan. Egoistis selalu menjadi akar atas pisah yang tak pernah direncanakan. Tangis demi tangis hadir secara bertahap. Kisah yang tersulam selama lima tahun dipaksa untuk dilupakan dalam sehari . Gila,,, insan mana yang sekuat itu. Bahkan itu tidak pernah terlukis dalam peristiwa manapun.
” Saya mencintaimu tanpa batas “. Asas yang memiliki legitimasi yang kuat dalam jiwa lelaki yang selalu membasuh darah yang bercucuran dalam batin.
” Saya mencintaimu sebagaimana perempuan pada umumnya yang ingin dihargai “. Prinsip yang mengakar dalam jiwa perempuan yang memutuskan semuanya harus berakhir tanpa alasan. Tapi diam-diam dia mengintip kesibukannya dibalik media .
Perbedaan selalu menjadi alasan mengapa semuanya harus kandas ditengah langkah. Jika pertemuan menghadirkan tawa maka perpisahan sudah seharusnya menyajikan lara. Wajibnya cinta harus demikian.
Yang tertanam dihati perempuan yang pernah disebut “kekasih” tinggal dendam dan kenangan kelam. Dan yang tertancap di batin lelaki yang pernah disebut “Sayang” cuman darah yang membekas.
Setidak-tidaknya bekas itulah yang mencatat kalimat cinta yang dipaksa untuk titik.
Suatu sore, petang yang membawamu pulang dari deretan jingga yang menari pada dekapan ribuan bola mata yang enggan melepasmu pada barisan gelap yang berjejer seolah-olah menyerang semesta secara brutal.
Sebagai salah satu diantara sekian pemuda yang menikmati keindahan-mu maka sudah seharusnya kekaguman demi kekaguman keluar secara perlahan. Itu yang ada dibenak-ku.
Hingga sedetik menuju adzan magrib, kau menyudut dan menepi pada pendopo yang lapuk. Menikmati secangkir kopi dengan sebuah novel ” Gadis Pantai ” dan sebatang kretek yang kau jepit diantara jari telunjuk dan tenga. Dengan jelitanya kau tegak-kan keparasan-mu ditepi pantai dengan deru ombak yang menakar pada permukaan pasir.
Beberapa menit setelah magrib. Kita kembali bertemu tanpa duga di warung kopi ” Cita Rasa “. Dan bahkan aku masih saja larut dalam hayal tentang dirimu.
Dengan sedikit Melihat kondisi warkop yang padat dengan pengunjung dan bahkan tidak menyisahkan satu meja-pun untuk kau tepati. Sehingga kau yang tengah sibuk mengamat setiap sudut warung kopi dengan sedikit pesimis, akhirnya matamu tertuju pada bangku kosong dihadapan meja yang sudah lebih dulu aku tempati. Sedangkan aku yang sedang sibuk bersama segelas kopi dan pena serta buku kepunyaanku, kau ganggu dengan kehadiranmu persis dihadapanku.
” Bisakah aku duduk disini ?” Tanyamu dengan nada ayu.
” Ohiya, silahkan “ jawabku dengan sedikit tegang.
” Aku Lara “ sapa-mu. Sambil mengulurkan tangan kanan dan menduduki kursi yang kosong.
” Aku Dara “ Tandasku. Dengan menjabat tangan yang kau ulurkan.
Seketika kita sedikit kebingungan dalam menerjemahkan nama yang nyaris sama. Itulah mengapa adanya tawa kecil yang kita hadirkan secara bergantian sebelum hadirnya pertanyaan-pertanyaan baru secara berurutan.
” Salam kenal, Lara ” . Lanjutku pasca tawa.
” Iya, Salam kenal, Bang Dara “. Responmu dengan dilanjutkan senyum manja.
Itulah mengapa aku percaya, perkenalan adalah awalan untuk mengetahui segalanya.
Ditengah-tengah perkenalan. kita di didatangi pelayan yang mengantarkan kopi manis pesananmu. ” Kopi Hitam, Mba ? “. Tanya pelayan ” Iya, Mas ” . Singkatmu.
Setelah menyajikan kopi pesananmu, ia lanjutkan dengan ” Selamat menikmati nikmatnya kopi di warkop cita rasa “. Pamit pelayan.
” Aku juga suka baca, nulis dan diskusi. Rokok dan kopi hanya sebatas teman perjalananku “. Jawabmu.
” Ngeriiiiii. Diantara semua perempuan yang suka healing. Cuman dirimu yang cinta terhadap rokok dan kopi “. Pujaku.
” Hhhhh. Cinta, cinta, dan cinta. Kenapa harus cinta ? “ Tanyamu setelah seteguk kopi yang masuk dalam rongga mulutmu.
” Apa yang terjadi merupakan kehendak cinta. Ketika dirimu memilih rokok dan kopi sebagai teman jalan. Kalau bukan karena kecintaan kau terhadap rokok dan kopi, lalu apa namanya “. Jawabku. Setelah membakar sebatang rokok.
” Hmmmm. Berarti cinta mampu menghendakan segalanya. Apakah semua kebijakan pemerintah yang kontradiktif terhadap rakyat itu juga dikatakan cinta ? Atau seorang lelaki yang mengejar perempuan karena kecantikan itu juga yang dinamakan cinta ? Jika demikian, mengapa cinta harus beraroma materil seperti uang dan kekuasaan yang digilakan oleh pemerintah serta kecantikan yang menjadi sorotan lelaki. Mungkin seperti anda. “ Tandasmu. Dengan dilanjuti. ” Pinjam koreknya, punya saya jatuh tadi dalam perjalanan ke sini “.
Respon yang membangkitkan cakrawala berpikirku.
Setelah sebatang rokok yang kita bakar secara bergantian. Aku mencoba untuk merasionalisasikan maksudku.
” Saya kira power cinta tidak serendah itu. Yang saya pahami kekuatan cinta adalah ketulusan yang mampu menghendaki segalanya. Seperti yang dimaksudkan oleh dirimu hanyalah kesewenangan yang mengatasnamakan cinta “. Jelasku.
” Menarik. Saya cukup merasa tertantang dengan romantisme dialegtika kali ini. Tapi sayangnya saya gak bisa lama disini. Saya harus pergi. Masih ada urusan urgent. ” Pamitmu sembari meneguk kopi yang kedua kalinya.
” Semoga bisa ketemu dilain kesempatan “. Responku.
” Tuhan sudah merencanakan semuanya. Entah ini sebagai awal dan terakhir pertemuan kita atau masih ada lain kesempatan yang masih menjadi rahasianya. Marii,,, saya duluan. “ Ujarmu sembari berkemas untuk beranjak.
” Hati-hati “. Jawabaku yang kau sambut dengan senyum.
Setelah kau beranjak dari cita rasa. Aku sibuk memungut segala tafsiran tentang momen saat ini . Tentang bayanganmu yang larut dalam sisa kopi yang kau tinggalkan dengan dua tegukan. Tentang tawa mungil yang hadir sabagai penutup dari apa yang kau bicarakan.
Bersambung. ( Selanjutnya di bagian ke dua dengan judul yang berbeda )
Menindaklanjuti apa yang terjadi didalam salah satu organisasi yang saya ikuti. Hal ini yang sedikit membuat saya heran terhadap jiwa-jiwa organisatoris yang sangat bobrok untuk ditunjukkan. Seperti alergi terhadap kritikan ( anti kritikan ) dengan dalih perlu memperhatikan tempat dan kondisi. Saya pikir cukup konyol jika alih-alih hanya ingin menjaga eksistensialisme dihadapan adik-adik yang berkecimpung didalam organisasi yang sama. Agar terkesan menjaga pola senioritas.
Hal tersebut berangkat dari adanya suatu program yang hemat saya tidak adanya nilai intelektualitas yang dihadirkan atau sejenis kemanfaatan lainnya. Sedangkan intelektualitas merupakan salah satu identitas yang melekat didalam batang tubuh organisasi tersebut. Sehingga menjadi hal yang lumrah jika kritikan dan saran saya hadirkan demi menjaga keselarasan program kerja. Dan jelasnya ini bukan bagian dari arogansi yang saya suguhkan.
Kata orang ” jika tidak ingin dikritik maka jangan melakukan apa apa “. Artinya jika sudah adanya langkah untuk melibatkan diri didalam organisasi disitu juga adanya kesiapan untuk mengikuti aturan main dalam organisasi tersebut diantaranya menjalankan program kerja. Dan apapun bentuk dari program kerja tersebut yang dijadikan sebagai pilihan maka sudah menjadi konsekuensi yang logis untuk di kritik.
Cukup disayangkan jika masih adanya jiwa jiwa organisatoris yang merasa asing terhadap segala bentuk kritikan. Tentunya yang menjadi pertanyaan fundamentalnya adalah faktor apa yang menyebabkan adanya jiwa jiwa seperti itu ? Pertanyaan demikian kiranya yang menjadi jawabnya hanya ada dalam diri kita sendiri yang notabenenya sebagai aktor didalam organisasi yang kita ikuti.
Organisasi itu episentrum menyulam kasih. Dan kritikan adalah bagian dari benang cintanya. Dan kita perlu itu demi menstabilkan mentalitas organisasi kita. Artinya dengan adanya kritikan entah itu secara terbuka atau tertutup pada dasarnya adalah hanya untuk membangkitkan spirit organisasinya kita demi mencegah stagnannya roda organisasi.
Saya kira dengan adanya tulisan ini tidak mengakibatkan ketersinggungan lebih lanjut. Hadirnya barisan aksara yang menjadikan kata hanya sebatas manifestasi dari rasa cinta saya terhadap organisasi yang saya geluti. Dengan segala bentuk kerelaan hati saya sangat menantikan balasan dari tulisan ini .
Ina, kita adalah sesama makhluk cinta yang memilih melantunkan hiruk-pikuk kehidupan di Yogyakarta. Sehingga apapun tentang Jogja, begitupun tentang kita. Yang menjadi pembedanya, tentang kau adalah Flores yang tak pernah layu, sedangkan tentang aku adalah sembur paus yang muncul pada musimnya.
Ina, kita adalah orang asing yang menaruh belas kasih pada ujung cakrawala kehidupan. Meminta untuk dikasahani oleh jarak yang melibatkan daratan dan lautan. Kita membelai waktu dan memohon ampun pada rindu. Seakan-akan yang menghantui kita adalah tentang kampung halaman. Demikianlah kita.
Disaat waktu berjalan begitu adanya. Kita tersadar dalam dekapan Yogyakarta, tentang nasih kucing yang tersaji di angkringan, tentang alunan angklung yang mengiringi enam puluh detik lampu merah, dan sejenis lainnya.
Kita tertatih dalam drama kehidupan tentang masing-masing diantara kita . Kau dibelai cinta dari jarak yang melewati lautan lepas oleh kekasihmu. Aku merintih, menahan, segala rasa yang bermunculan tanpa aku kehendaki.
Hari berlaju begitu tak terhingga pada waktu menunjukkan aku harus memujimu sebagai ratu dalam setiap bait yang aku tulis. Dan bahkan awal mengenalmu saja, aku lupa bagaimana mendeskripsikan keindahan tanah kelahiranku. Kau mengubah isi otakku, dan bahkan arah tulisanku.
Tidak ada keburukan tentang-mu yang terpampang disini, Ina. Aksara-akasara kepunyaanku tak setega itu. Dan bahkan aku kehabisan kata-kata untuk memujamu lebih lanjut.
Literasi merupakan salah satu tradisi yang seyogianya tidak bisa dilepaskan didalam Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhamadiya atau sering di kenal dengan IMM. Sebab hal tersebut merupakan fondasi dari nilai-nilai intelektualitas yang merupakn salah satu poin didalam tri kompetensinya Ikatan Mahasiswa Muhamadiya itu sendiri. Meskipun tuntutan zaman yang menghadapkan kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dengan perkembangan teknologi komonikasi yang sangat berkembang tetapi yang menjadi ketakutan saya adalah adanya penyalagunaan terhadap pekembangan teknologi yang ada, yang hanya mengakibatkan kader larut didalam roamntisme perkembangan teknologi yang berdampak negatif.
Dan IMMawati merupakan salah satu bagian terpenting didalam Ikatana Mahasiswa Muhammadiyah sebab hadirnya IMMawati sebagai pendamping dari IMMawan dalam menjalankan roda organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Karena tidak bisa kita nafikan bahwa kaum perempuan diciptakan Allah SWT di dunia agar hidup berdampingan dengan laki-laki dalam mencapai tujuan bersama, begitupun dengan IMMawati dan IMMawan yangharus berdampingan demi mencapai tujuan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Seperti yang dikatakan oleh orang-orang bahwa perempuan merupakan “rahim peradaban”, istilah ini merupakan salah satu identitas yang selalu diberikan kepada perempuan. Dan IMMawati yang merupakan gelar yang diberikan kepada perempuan-perempuan yang ikut andil didalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah harus mampu menjadi “rahim peradabannya kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah “, Maka dari itu immawati juga harus mampu memposisikan diri dengan baik agar dapat memberikan kontribusi terhadapan perubahan kader yang lebih produktif dan yang lebih baik.
Ketika memilih menjadi rahim peradabannya kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah maka tidak boleh merasa asing dengan perihal literasi. Karena dengan literasi IMMawati bisa membangun pemahaman yang nantinya akan disalurkan kepada kader. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis untuk IMMawati. Tetapi yang menjadi pertanyaannya sejauh ini sudah sedekat apa IMMawati dan Literasi ? Pertanyaan seperti ini yang harus direnungi oleh IMMawati. Karena terkadang tidak bisa dipungkiri yang sering kali terjadi kurangnya kontribusi dari IMMawati terhadap arah geraknya IMM dan juga memudarnya tradisi literasi yang mungkin terkikis zaman. Tidak semua IMMawati yang menikmati keterkenalan mereka tetapi apalah artinya IMMawati-IMMawati yang sudah memiliki kesadaran tetapi tidak bisa menyadarkan IMMawati yang lain dalam perihal literasi. Dan mengapa diantara sekian banyak IMMawati yang didalam ikatan hanya IMMawati-IMMawati tertentu saja yang memiliki kesadaran literasi ? Faktor apa yang menyebabkan ? Apakah Kurang fasilitas dari organisasi atau kurangnya dorongan dari IMMawan ? Melihat realitas yang terjadi sekarang kuantitas IMMawati terkadang mempengaruhi kualitas, karena banyak IMMawati yang hanya bergelar IMMawati namun tidak memahami peran dan Identitasnya sebagai IMMawati.
Literasi dan IMMawati merupakan pilar dan kekuatan yang harus dirawat didalam Ikatan Mahasiswa Muhamadiya. Sebab keduanya memiliki subangsi yang besar terhadap pergerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau IMM itu sendiri. Literasi harus bisa dirawat sebagai tradisi yang bisa menjunjung tinggi nilai intelektualitas dan IMMawati memiliki tugas besar untuk turut serta mendorong terhapusnya tindakan yang menyebabkan terciptanya dinding penghalang bagi potensi perempuan dan ikut serta dalam menciptakan kader-kader yang berintelektual. Maka dari itu tidak boleh ada jarak antara Literasi dan IMMawati.
Sebagai akhir dari tulisan ini saya mengharapkan ada kritikan dihadirkan oleh para pembaca terkhusus IMMawati sebagai representasi dari rasa cinta kita sebagai pelaku Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Sebab dengan cinta saya hadir bersama tulisan ini, ketiadaan cinta kamipun tidak ada.