Kita akan menjadi petarung paling lemah ketika hendak berhadapan dengan misteri kehidupan. Kecemasan yang dirawat lebih panjang adalah mimbar ketika air mata hendak bersuara.
Setidak-tidaknya aku pernah melawan atas nasib buruk yang saat ini aku genggam. Pemaksaan dan penolakan bertarung pada sisa nafasku yang tergesa-gesa.
Setelah dipersunting luka, bola mataku lebih dekat dengan kematian yang Tuhan hidangkan jauh sebelum hari kemenangan dirayakan. Lantaran Tuhan lebih menikmati doanya yang lebih sederhana dan akan membiarkan aku mati dan tergeletak diatas ranjang luka serta diperkuat dengan empat kaki penolakan yang kokoh.
Bukan waktunya lagi untuk memahami dendam semacam apa yang telah kau lempar untuk mengusir permohonan demi permohonan dengan wajah kasihan dan meminta untuk ditolong. Entahlah kejam atau apa yang harus aku sebut, dendam atau tabah yang harus aku balas, pastinya kehilangan atau kematian tetaplah kepahitan.
( sekali lagi, temukan aku dibalik penyesalan yang mungkin akan kau jaga )
Atas nama kegagalan berkali-kali, ketakutan yang terulang lagi, bahkan penolakan yang tak bisa dinegosiasi. Telah menjadi hantu yang barada dipameran kesibukan pada pendopo waktu. Akhirnya aku harus benar – benar yakin bahwa ketakutan terbesar adalah menjadi budak bagi diri sendiri. Sebab dirimu sudah terlanjur menjadi Ratu yang memegang kendali kehidupanku.
Aku lelaki setengah sadar yang menulis ini setelah diperkosa sunyi ditepi sepi paling unik. Sebab masih ada sedikit suara yang berbisik di balik jeruji ingatan ; ” aku tidak mau berurusan lagi dengan lelaki bejat seperti mu “. Kalimat pahit yang harus menjadi santapanku setiap detik.
Nasib buruk adalah cara Tuhan menghanyutkanku diantara gelombang harapan dan arus penolakan yang begitu besar . Hingga tenggelam dalam keadaan pasrah dan mati menelan kenyataan yang asin.
Antara Tuhan, Negara, dan Kamu adalah panggung bagi air mataku berpuisi dengan bait – bait luka yang menjemput kematian. Yang paling menyakitkan adalah keterlibatan dirimu sebagai pembunuh dengan cara paling sederhana.
Kematian orang yang sudah lebih dulu dimarjinalkan memang tidak pantas untuk dikenang. Apalagi dengan cara berpura-pura terkejut, dan jelasnya tidak perlu merasa paling menyesal atas semua keputusan yang menjadi senjata dibalik kematianku, bahkan tidak usah untuk ikut serta dalam merayakan kesedihan dan acara pemakaman.
( Beberapa hari setelah ini kau akan menemui ku dibalik penyesalan yang kau ciptakan sendiri ).
Ketika aku hendak mempersunting luka dengan puisi – puisi, aku semakin paham tentang bagaimana Tuhan mengutukku atas nama cinta. Kepedihan sudah seperti menggenapkan sembilan bahan pokok menjadi sepuluh. Dikala rindu harus duduk termenung di ruang tunggu.
Dipuncak tangisku, telah aku temukan pelukan yang hilang. Kita nyenyak dalam keterasingan paling senyap. Menyapa atau disapa tidak lagi menjadi irama klasik yang terbit dipagi hari. Menegur atau ditegur bukan lagi pengantar tidur. Pamit paling sakit adalah tidak disertai kepastian untuk kembali.
Kendati Tuhan memang tidak pernah menceritakan kepadanya tentang bagaimana aku mencintainya. Aku tetap memilih menjadi tabah atas semua lara, menikmati diujung keheningan dengan menelan pahitnya kehilangan.
Cukup lama kita jatuh cinta diatas birahi ketakutan yang terlalu kuat hingga aku tak bisa membendungnya dengan ketulusan yang terlalu terbatas. Bahkan aku sering merayu hatiku agar membunuh keinginanku sendiri. Dan membiarkan tawanya tak pernah rapuh disudut bibirnya
Kegagalan terbesar adalah tidak lagi menjadikannya ratu dari bait – bait puisi yang aku tulis. Mengenangnya dalam sajak yang menunggu kehadirannya kembali untuk membasuh ujung kata yang basah. Ternyata mencintainya tidak bisa membakar luka menjadi tawa . Dan Tuhan tidak lagi mengizinkan itu.
Setelah menebak kematian dalam sajak – sajak puitis, aku dan mungkin beberapa orang lainnya tidak ingin lagi hidup diatas jalan sunyi paling dingin. Membiarkan keputusan dan perlawanan politik menjadi aroma kehidupan yang harus dihirup dengan tergesa-gesa. Menggendong tawa kemenangan dan merangkul air mata kehilangan seperti mengulang peristiwa lama yang belum sempat hilang dalam catatan sejarah.
Negara sudah tidak bisa diajak berkawan, dari pembangunan budidaya kerang mutiara di Lembata sampai tindakan represif aparat di bibir jalan adalah tragedi yang mempermainkan esensi hati nurani, jiwa dibunuh dengan mata batin tertutup. Lantas mengapa harus hidup dengan tangisan tanpa suara bahkan dibungkam dengan pukulan.
Kesalahan Tuhan adalah membiarkan kita hidup dengan jiwa yang mati, dipaksa akrab dengan ketidakmungkinan yang harus di dekap. Menerima kenyataan bahwa mulut tidak boleh terbuka atas nama kebenaran. Tuhan terima ini sebagai satu – satunya surat yang harus tetap dibaca selama lima atau sepuluh tahun ke depan. Sampai kami benar – benar hidup dengan tawa paling bebas, bukan diam karena tuntutan pasal.
Tuhan masih membiarkan aku kembali meneguk segelas dosa yang ia simpan diatas meja waktu. Kenapa tidak diracuni lagi dengan keheningan paling sinis yang selalu aku junjung. Tuhan mengurangi satu persatu angka kehidupan yang sempat aku tambahkan.
Menghitung rintik hujan yang turun, meneguk kopi kapal api, membaca pejalan anarki, menulis, diskusi adalah arus balik membunuh hampa yang dingin. Jogja bukan lagi tempat menyimpan doa bagi makhluk yang asing dengan sajadah. Harapan dan kegagalan, cinta dan lara, rindu dan pilu, dipaksakan bersetubuh di ranjang ingatan.
Diam adalah hasil kawin saudara antara kecemasan dan ketakutan. Setelah menelan semua kalimat puitis dan setetes gerimis yang sepi. Kekhawatiran terus dilipat dan dikumpulkan hingga dirampas kematian.
Aku telah membunuh diriku sendiri dengan cara menghirup udara sunyi pada setiap bait, menjilat setetes dara kenangan, mencium setiap sajak rindu yang dipeluk ibu, merupakan kematian yang aku terka dengan tulisan.
Selain dibibir gang, emperan tokoh, terminal giwangan, stasiun Lempuyangan, lampu merah tamsis, disamping baliho politik, angkringan, warmindo, dan tentang Jogja lainnya adalah gugusan cinta yang bersuara dengan kalimat – kalimat puitisnya para penyair. Barangkali tentang sepasang anak mudah yang tenggelam dalam luka dipojok malam dan sepasang kekasih yang melepaskan rindu disepanjang jalan.
Bahkan setelah mengecup kening ibuku dilayar ponsel. Tuhan memukulku di pertigaan kebimbangan antara sepi yang hampir basi atau keramaian dengan sebungkus kado yang harus aku gendong pahitnya. Sebab manisnya akan menjadi senjata paling tajam yang sengaja Tuhan tancap pada kedua bola mataku.
Membiarkan gelap menguasai sudut pengelihatan. Menghilangkan wajah ibu yang masih kentara pada dinding – dinding mata. Jika Tuhan hendak membunuhku, maka ia akan meracuni aku dengan keheningan paling sinis yang belum pernah aku nikmati. Bila sampainya aku mati, paling tidak ingatanku tentang ibu masih hidup dibalik kematianku.
Waktu menunjukkan akhir pekan. Demi melepaskan segala penat yang dipikulnya. San dan beberapa kawan-kawannya dalam dunia malam memutuskan untuk ke pantai yang dihiasi oleh butiran-butiran pasir putih dan laut yang begitu bersih.
Memakan waktu sekitar empat puluh lima menit, tujuh detik untuk tiba di sana. Riang tawa berhamburan menyelami suara ombak di pantai.
Disana juga terdapat beberapa komplotan kaum borjuis yang sedang menikmati keindahan duniawi. Akasti Pamungkas salah satu diantara mereka yang lebih memilih menyaksikan ke lima perempuan malam yang sedang riang gembira dibawah terik matahari.
Tatapan tajamnya dari kejauhan lebih terarah pada San. Seorang lelaki paru baya dengan segala macam bentuk kesenangan selalu menghampirinya. Dari matanya terlihat dengan jelas bahwa dia menginginkan San.
Hasratnya diputuskan karena harus mengikuti pertemuan dengan beberapa tokoh Borjuis yang lain .
” Hei Tuan. Ayo kita mulai agenda kita”. Ajak Dano, yang merupakan salah satu dari komplotan Borjuis tersebut.
Dengan dingin dan senyum yang tipis Akasti Pamungkas mengiyakan ajakannya.
Ketika bibir pantai dipenuhi sorotan jingga dari aroma senja. San bersama kawan-kawannya harus meninggalkan tempat tersebut.
“Ayo bersiap cantikku. Ada yang sudah menunggumu di kejora hotel”. Ucap Mami Rosa Pada Alena.
“Saya membelimu dalam satu malam dengan angka yang tinggi. Saya ingin hal baru darimu”. Ucap OM Bimo.
” Apa yang harus saya perbarui ? Kecepatan Goyang ? Volume desahan ? Atau apa ?” Tanya Alen
“Saya ingin di Lobi”. Jawab Om Bimo sambil berjalan keluar dari kamarnya.
Hal yang baru bagi alena. Tapi ia tidak punya kesempatan untuk menolak. Lantaran tugasnya adalah melayani.
Lobi seperti sudah dipersiapkan oleh pemilik hotel tersebut yang tidak lain ada OM Bimo itu sendiri. Keduanya melakukan seperti berada didalam ruang yang tertutup. Menikmati dua aroma parfum yang bertengkar dibalik desahan yang berbunyi hingga pada aura klimaks memukul di ujung kepala.
Tidak jauh dari kejora hotel. San juga sedang melakoni tamunya yang merupakan kolega dari om Bram tamu San sebelumnya.
Keduanya melakukan dengan keadaan sejuk tanpa dikejar sampai dering detik waktu tiba persis pada 23.00.
“Tugas saya selesai” ucap San sambil bangun dari ranjang.
” Ada kenikmatan tersendiri dari dirimu . Nanti saya hubungi lagi. Ini untuk mu . Sisanya ambil saja”. Ucap Tamu San.
Dengan tatapan kecil setelah mengenakan kembali gaun ungunya San mengambil amplop tersebut dan meninggalkan kamar 712.
Dibawah tatapan siang yang terik, dibalik bangunan tua yang dikelilingi rayap. Seorang perempuan berpakaian serba terbuka terbangun dari ranjang kumunya. Mirsa Santika.
Hampir semua orang menyebutnya dengan San. Seorang perempuan yang sebenarnya terlahir dari keluarga yang serba ada. Nasib pilu terlalu cepat melandanya, kendati Ayahnya yang merupakan investor ternama harus mati dengan dua peluru di dada. Ditembak oleh pembunuh bertangan dingin.
Kejadian yang sangat misterius, lantaran ibunya menghilang tanpa satupun jejak yang tertinggal. Peristiwa luka beberapa tahu silam selalu menjadi sarapan pagi dibenak San.
Dipaksa hidup dengan setengah nafas. Dipaksa jalan dengan kaki pincang. San memilih dunia malam demi keberlangsungan kehidupannya.
Ditengah lamunan yang khusu. Mengingat kembali masa kecil yang penuh tawa bersama keluarganya san diganggu oleh dering telepon yang berbunyi.
” Halo, Mom” sambut San
” 19.30 di Lumbung Hotel.” Ucap Mami Rosa dengan singkat.
Tanpa panjang lebar Mami Rosa yang merupakan Ibu asu bagi para perempuan malam mematikan telfonnya.
Dengan gaun merah dan alas kaki yang tinggi. San tiba di Lumbung Hotel lalu menghampiri seorang lelaki hidung belang yang sedang berdiam diri di kamar 203.
Tok tok.
“Masuk” . Ucap Om Bram . Seorang konglomerat yang sedang menunggu San.
“Selamat Malam. Maaf aku telat 3 menit.” Ucap San
“Saya maklumi.” Jawab Om Bram sambil beralih menuju San.
Dengan jemari yang terlatih menari dibelakang telinga Om Bram. San memulai tugasnya. Hingga disambut dengan liar oleh Om Bram. Bergegas dan berlanjut ke ranjang.
Hingga kembali terbitnya fajar. OM Bram bangkit dari kelelahan lima rounde bersama San. San sudah lebih dulu meninggalkan Si konglomerat tersebut.
Dilain tempat, ditengah kesesakan kota ada seorang anak kecil sedang menggigil diterpa hujan angin. Kota lagi diguyur hujan. Seisinya berhamburan dihajar angin kencang.
Nardi Caraka. Lelaki dengan kemeja putih berlengan panjang menghampiri si boca yang sedang menangis ketakutan seorang diri.
” Ayo…. Siapa namamu, dek ?” Tanya Caraka sembari menggendong si boca menuju emperan tokoh.
Tanpa satu katapun. Si boca itu hanya dengan irama tangisnya yang bersedu-sedu.
Tidak menunggu lama. Caraka menggendong si kecil yang sedang dalam keadaan lemas kedinginan menuju ke Mobel hitam kepunyaannya. Dipertengahan jalan si kecil itu sudah tidak menyadarkan diri.
Pada sebuah istana yang megah si kecil itu terbangun dan melihat ke arah Caraka yang terlelap pada sebuah sofa. Dengan nada yang ragu. Si kecil itu mencoba memanggilnya.
“Bang.” sapa boca itu.
Caraka tersadar. Dan langsung tersenyum pulas akhirnya si kecil itu baik-baik saja .
“Alhamdulillah sudah sadar kamu. Siapa namamu ? “. Ucap caraka.
“Lana, Bang.” Jawab si kecil itu.
“Dimana rumah mu ?” Sambung caraka
“Di setiap emperan tokoh”. Jawab Lana dengan keadaan lesu.
“Aku hidup sebatang karang. Dengan sebuah ukulele yang baru saja dirampas pengamen yang memiliki postur tubuh yang besar. Ukulele itu peninggalan ayahku. Ayahku meninggal ditabrak mobil setahun yang lalu dihadapanku sendiri. Sedangkan ibuku diperkosa oleh sekelompok orang yang tidak saya kenal lalu dibawah entah kemana.” Sambung Lana dengan ekspresi sedihnya.
Dalam keadaan yang penuh rasa iba. Caraka mengajak Lana untuk tinggal bersamanya.
” Sudah tidak usah bersedih. Tinggal saja bersama ku. Anak seusiamu belum layak untuk dibenturkan dengan dunia pekerjaan. Seharusnya kamu sekolah dan belajar”. Ucap caraka sambil berlutut mengelus kepala Lana.
Dibenak Caraka adalah betapa kejamnya kehidupan untuk anak seusia Lana.
” Aku tidak ingin mencintaimu dengan penuh kekurangan ku” . Ucap Mona yang sedang bergegas pergi meninggalkan Kekasihnya.
Bertahun-tahun hidup saling menukar cinta. Bahwa setiap detik yang berbunyi adalah tawa mesra dari Madi Dan Mona . Tapi tidak berlaku di sudut langit Selasa waktu itu.
Dibibir pantai yang romantis, irama cinta Madi menjadi berantakan. Mendengarkan Mona bercerita bahwa ia merupakan perempuan malam, Madi seperti sedang berdiri diatas bara luka paling merah.
Mona yang sudah tidak tahan menutupi semuanya hanya bisa memulainya dengan “Tuhan, tidak pernah menyia-nyiakan ketulusan seseorang” .
Madi yang tidak bisa membaca tanda bahwa perkataan Mona adalah pintu malapetaka bagi cintanya. Ia hanya bisa menanggapi dengan ” Dan bahkan tuhanpun tahu tentang ketulusan kita “.
Dengan wajah cinta paling sempurna Mona hanya berkata “Kau terlalu baik untukku miliki. Kehadiranmulah yang membuat aku tidak pernah paham tentang takdir Tuhan untukku”.
Madi seketika dibuat melayang dengan setiap kalimat yang terucap dari Mona .
Dengan senyum lebarnya Madi, Mona memulai ceritanya dengan air mata .
” Dua tahun sebelum kita bertemu, Ayah dan Ibuku berpisah. Kenyataan pahit yang melandaku membuat aku tidak ingin bertemu dengan kedua orang tuaku . Aku memutuskan untuk pergi dari Rumah dan memulai kehidupan baru di Kota ini. Yang aku punya hanyalah kehormatan yang bisa aku uangkan demi keberlangsungan kehidupanku”.
Sebelum lanjut bicara, Mona mengangkat kepala dan melihat Madi dengan Air mata permohonan maaf. Lalu berkata “Pertemuan kita hanyalah untuk mengisi kekosongan waktu satu sama lain. Tapi aku mencintaimu lebih dari aku mencintai segalanya. Hanya saja Tuhan terlambat mempertemukan kita. Aku sudah terlanjur dalam keadaan seperti ini. Semakin aku memaksa untuk mencintaimu semakin aku berani untuk mempermalukan Tuhan”.
“Kehormatan perempuan tidak harus ditentukan dari setetes darah perawan. Ketulusan hati adalah mahkota perempuan paling berharga “ . Ungkap Madi sembari mantap mata Mona.
” Aku tidak bisa mencintaimu dengan penuh kekurangan. Kau selalu ada disaat waktu lelahku. Lantas apa iya aku harus membayar dengan sisa pemakaian orang lain ? Cinta ku begitu besar. Tapi tidak bisa ku lanjutkan. Sekali lagi aku tidak bisa mencintaimu dengan penuh kekuranganku”. Dengan mata yang merayakan luka Mona meninggal Madi dihadapan senja kala itu.
Madi hanya bisa menyaksikan nada luka paling merdu dengan sesak yang mengetuk dada.
Sebab Mona harus pergi dengan prinsip di kepala, tidak ada cinta yang harus tumbuh dilahan yang penuh kekurangan.
Empat ratus delapan puluh tujuh detik. Setelah meninggalkan Madi dibawah lindungan jingga. Sudut ingatan Mona masih dikuasai Madi. Ketika ia sedang melayani tamunya, gairah Mona untuk bercinta seolah-olah hilang begitu saja .
Hari terlewatkan dengan penuh lara. Madi berlinangan air mata didalam setiap sajak – sajaknya yang menghujani media sosialnya.
Tidak ada pertemuan lagi setalah itu. Kehilangan benar-benar ada ketika Madi mendapatkan kabar bahwa Mona telah mati kecelakaan. Dipaksa gugur sebelum tumbuh, Madi betul-betul terpuruk.
Kehilangan tetaplah Kehilangan. Kenangan akan tumbuh dipermukaan waktu. Rindu adalah temu yang terlalu jauh untuk dipeluk.
Kita terlahir sebagai pejalan dengan kaki yang rapuh, menghitung kembali jejak-jejak luka secara satu-persatu ; tentang sepasang bola mata yang saling berteduh hingga secangkir kehilangan yang harus kita teguk.
Pahit, asin, dan sederet rasa yang yang tidak pernah kita temukan sebelumnya telah bersentuhan dengan aroma kopi dan jagung titi yang kita nikmati hampir setiap malam dikala itu.
Beberapa tahun silam kita begitu mesra dalam dekap waktu. Menukar tawa dengan segala manisnya senyum lalu menyulam kasih dengan tatapan paling gelap yang mencium langit. Hingga Tuhanpun tak mampu merasakannya
Aku mengenalmu sebagai perempuan yang menyimpan kehormatannya dibalik sarung tenun. Meminta tawa kecilmu yang selalu kau sandarkan pada pangkuan seorang ibu.
Perjalan panjang yang kita lewati dengan janji paling tinggi selalu menjolok disele-sela awan yang sedang menari di atap semesta. Membisik dengan hati-hati pada gendang telinga, hingga melaju pada puisi dengan bibir yang sedikit rapat pada sajadah. Ditengah tangis perlawanan masyarakat pesisir pantai, Tuhan menjawab setiap doa kita. Sampai kita lupa jalan pulang.