Menuju Kematian

( adyputrahandika) Kita akan menjadi petarung paling lemah ketika hendak berhadapan dengan misteri kehidupan. Kecemasan yang dirawat lebih panjang adalah mimbar ketika air mata hendak bersuara.  Setidak-tidaknya aku pernah melawan atas nasib buruk yang saat ini aku genggam. Pemaksaan dan penolakan bertarung pada sisa nafasku yang tergesa-gesa. Setelah dipersunting luka, bola mataku lebih dekat denganLanjutkan membaca “Menuju Kematian”

Temui Bayanganku Dibalik Penyesalanmu

( adyputrahandika ) Atas nama kegagalan berkali-kali, ketakutan yang terulang lagi, bahkan penolakan yang tak bisa dinegosiasi. Telah menjadi hantu yang  barada dipameran kesibukan pada pendopo waktu. Akhirnya aku harus benar – benar yakin bahwa ketakutan terbesar adalah menjadi budak bagi diri sendiri.  Sebab dirimu sudah terlanjur menjadi Ratu yang memegang kendali kehidupanku.  Aku lelakiLanjutkan membaca “Temui Bayanganku Dibalik Penyesalanmu”

Jika Tuhan tidak lagi  mengizinkan aku untuk mencintainya

( adyputrahandika ) Ketika aku hendak mempersunting luka dengan puisi – puisi, aku semakin paham tentang bagaimana Tuhan mengutukku atas nama cinta.  Kepedihan sudah seperti menggenapkan sembilan bahan pokok menjadi sepuluh. Dikala rindu harus duduk termenung di ruang tunggu. Dipuncak tangisku, telah aku temukan pelukan yang hilang. Kita nyenyak dalam keterasingan paling senyap. Menyapa atauLanjutkan membaca “Jika Tuhan tidak lagi  mengizinkan aku untuk mencintainya”

Tuhan Tolong Jangan Biarkan Kami Mati Dalam Keheningan .

( adyputrahandika ) Setelah menebak kematian dalam sajak – sajak puitis, aku dan mungkin beberapa orang lainnya tidak ingin lagi hidup diatas jalan sunyi paling dingin. Membiarkan keputusan dan perlawanan politik menjadi aroma kehidupan yang harus dihirup dengan tergesa-gesa. Menggendong tawa kemenangan dan merangkul air mata kehilangan seperti mengulang peristiwa lama yang belum sempat hilangLanjutkan membaca “Tuhan Tolong Jangan Biarkan Kami Mati Dalam Keheningan .”

Bagaimana Jika Aku Mati, Setelah Menulis Ini.

(adyputrahandika) Tuhan masih membiarkan aku kembali meneguk segelas dosa yang ia simpan diatas meja waktu. Kenapa tidak diracuni lagi dengan keheningan paling sinis yang selalu aku junjung. Tuhan mengurangi satu persatu angka kehidupan yang sempat aku tambahkan. Menghitung rintik hujan yang turun, meneguk kopi kapal api, membaca pejalan anarki, menulis, diskusi adalah arus balik membunuhLanjutkan membaca “Bagaimana Jika Aku Mati, Setelah Menulis Ini.”

Jika Tuhan Hendak Membunuhku Di Jogja.

( adyputrahandika ) Selain dibibir gang, emperan tokoh, terminal giwangan, stasiun Lempuyangan, lampu merah tamsis, disamping baliho politik, angkringan, warmindo, dan tentang Jogja lainnya adalah gugusan cinta yang bersuara dengan kalimat – kalimat puitisnya para penyair. Barangkali tentang sepasang anak mudah yang tenggelam dalam luka dipojok malam dan sepasang kekasih yang melepaskan rindu disepanjang jalan.Lanjutkan membaca “Jika Tuhan Hendak Membunuhku Di Jogja.”

SAN

Bab 2. Waktu menunjukkan akhir pekan. Demi melepaskan segala penat yang dipikulnya. San dan beberapa kawan-kawannya dalam dunia malam memutuskan untuk ke pantai yang dihiasi oleh butiran-butiran pasir putih dan laut yang begitu bersih. Memakan waktu sekitar empat puluh lima menit, tujuh detik untuk tiba di sana. Riang tawa berhamburan menyelami suara ombak di pantai.Lanjutkan membaca “SAN”

SAN

Bab 1 Dibawah tatapan siang yang terik, dibalik bangunan tua yang dikelilingi rayap. Seorang perempuan berpakaian serba terbuka terbangun dari ranjang kumunya. Mirsa Santika. Hampir semua orang menyebutnya dengan San. Seorang perempuan yang sebenarnya terlahir dari keluarga yang serba ada. Nasib pilu terlalu cepat melandanya, kendati Ayahnya yang merupakan investor ternama harus mati dengan duaLanjutkan membaca “SAN”

Hilang Dan Pergi

( adyputrahandika ) ” Aku tidak ingin mencintaimu dengan penuh kekurangan ku” . Ucap Mona yang sedang bergegas pergi meninggalkan Kekasihnya. Bertahun-tahun hidup saling menukar cinta. Bahwa setiap detik yang berbunyi adalah tawa mesra dari Madi Dan Mona . Tapi tidak berlaku di sudut langit Selasa waktu itu. Dibibir pantai yang romantis, irama cinta MadiLanjutkan membaca “Hilang Dan Pergi”

𝐒𝐔𝐀𝐑𝐀 𝐋𝐀𝐍𝐆𝐊𝐀H

( adyputrahandika ) ( hlm 1 ) Kita terlahir sebagai pejalan dengan kaki yang rapuh, menghitung kembali jejak-jejak luka secara satu-persatu ; tentang sepasang bola mata yang saling berteduh hingga secangkir kehilangan yang harus kita teguk. Pahit, asin, dan sederet rasa yang yang tidak pernah kita temukan sebelumnya telah bersentuhan dengan aroma kopi dan jagungLanjutkan membaca “𝐒𝐔𝐀𝐑𝐀 𝐋𝐀𝐍𝐆𝐊𝐀H”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai