( adyputrahandika)

Kita akan menjadi petarung paling lemah ketika hendak berhadapan dengan misteri kehidupan. Kecemasan yang dirawat lebih panjang adalah mimbar ketika air mata hendak bersuara.
Setidak-tidaknya aku pernah melawan atas nasib buruk yang saat ini aku genggam. Pemaksaan dan penolakan bertarung pada sisa nafasku yang tergesa-gesa.
Setelah dipersunting luka, bola mataku lebih dekat dengan kematian yang Tuhan hidangkan jauh sebelum hari kemenangan dirayakan. Lantaran Tuhan lebih menikmati doanya yang lebih sederhana dan akan membiarkan aku mati dan tergeletak diatas ranjang luka serta diperkuat dengan empat kaki penolakan yang kokoh.
Bukan waktunya lagi untuk memahami dendam semacam apa yang telah kau lempar untuk mengusir permohonan demi permohonan dengan wajah kasihan dan meminta untuk ditolong.
Entahlah kejam atau apa yang harus aku sebut, dendam atau tabah yang harus aku balas, pastinya kehilangan atau kematian tetaplah kepahitan.
( sekali lagi, temukan aku dibalik penyesalan yang mungkin akan kau jaga )
Tamat