( adyputrahandika )
Ketika aku hendak mempersunting luka dengan puisi – puisi, aku semakin paham tentang bagaimana Tuhan mengutukku atas nama cinta. Kepedihan sudah seperti menggenapkan sembilan bahan pokok menjadi sepuluh. Dikala rindu harus duduk termenung di ruang tunggu.
Dipuncak tangisku, telah aku temukan pelukan yang hilang. Kita nyenyak dalam keterasingan paling senyap. Menyapa atau disapa tidak lagi menjadi irama klasik yang terbit dipagi hari. Menegur atau ditegur bukan lagi pengantar tidur. Pamit paling sakit adalah tidak disertai kepastian untuk kembali.
Kendati Tuhan memang tidak pernah menceritakan kepadanya tentang bagaimana aku mencintainya. Aku tetap memilih menjadi tabah atas semua lara, menikmati diujung keheningan dengan menelan pahitnya kehilangan.
Cukup lama kita jatuh cinta diatas birahi ketakutan yang terlalu kuat hingga aku tak bisa membendungnya dengan ketulusan yang terlalu terbatas. Bahkan aku sering merayu hatiku agar membunuh keinginanku sendiri. Dan membiarkan tawanya tak pernah rapuh disudut bibirnya
Kegagalan terbesar adalah tidak lagi menjadikannya ratu dari bait – bait puisi yang aku tulis. Mengenangnya dalam sajak yang menunggu kehadirannya kembali untuk membasuh ujung kata yang basah. Ternyata mencintainya tidak bisa membakar luka menjadi tawa . Dan Tuhan tidak lagi mengizinkan itu.
Selesai
