( adyputrahandika )
Setelah menebak kematian dalam sajak – sajak puitis, aku dan mungkin beberapa orang lainnya tidak ingin lagi hidup diatas jalan sunyi paling dingin. Membiarkan keputusan dan perlawanan politik menjadi aroma kehidupan yang harus dihirup dengan tergesa-gesa. Menggendong tawa kemenangan dan merangkul air mata kehilangan seperti mengulang peristiwa lama yang belum sempat hilang dalam catatan sejarah.
Negara sudah tidak bisa diajak berkawan, dari pembangunan budidaya kerang mutiara di Lembata sampai tindakan represif aparat di bibir jalan adalah tragedi yang mempermainkan esensi hati nurani, jiwa dibunuh dengan mata batin tertutup. Lantas mengapa harus hidup dengan tangisan tanpa suara bahkan dibungkam dengan pukulan.
Kesalahan Tuhan adalah membiarkan kita hidup dengan jiwa yang mati, dipaksa akrab dengan ketidakmungkinan yang harus di dekap. Menerima kenyataan bahwa mulut tidak boleh terbuka atas nama kebenaran. Tuhan terima ini sebagai satu – satunya surat yang harus tetap dibaca selama lima atau sepuluh tahun ke depan. Sampai kami benar – benar hidup dengan tawa paling bebas, bukan diam karena tuntutan pasal.
Selesai.

Sumber gambar;whisperroom.com