(adyputrahandika)

Tuhan masih membiarkan aku kembali meneguk segelas dosa yang ia simpan diatas meja waktu. Kenapa tidak diracuni lagi dengan keheningan paling sinis yang selalu aku junjung. Tuhan mengurangi satu persatu angka kehidupan yang sempat aku tambahkan.
Menghitung rintik hujan yang turun, meneguk kopi kapal api, membaca pejalan anarki, menulis, diskusi adalah arus balik membunuh hampa yang dingin. Jogja bukan lagi tempat menyimpan doa bagi makhluk yang asing dengan sajadah. Harapan dan kegagalan, cinta dan lara, rindu dan pilu, dipaksakan bersetubuh di ranjang ingatan.
Diam adalah hasil kawin saudara antara kecemasan dan ketakutan. Setelah menelan semua kalimat puitis dan setetes gerimis yang sepi. Kekhawatiran terus dilipat dan dikumpulkan hingga dirampas kematian.
Aku telah membunuh diriku sendiri dengan cara menghirup udara sunyi pada setiap bait, menjilat setetes dara kenangan, mencium setiap sajak rindu yang dipeluk ibu, merupakan kematian yang aku terka dengan tulisan.
Yogyakarta, 2024