Jika Tuhan Hendak Membunuhku Di Jogja.

( adyputrahandika )


Selain dibibir gang, emperan tokoh, terminal giwangan, stasiun Lempuyangan, lampu merah tamsis, disamping baliho politik, angkringan, warmindo, dan tentang Jogja lainnya adalah gugusan cinta yang bersuara dengan kalimat – kalimat puitisnya para penyair. Barangkali tentang sepasang anak mudah yang tenggelam dalam luka dipojok malam dan sepasang kekasih yang melepaskan rindu disepanjang jalan.

Bahkan setelah mengecup kening ibuku dilayar ponsel. Tuhan memukulku di pertigaan kebimbangan antara sepi yang hampir basi atau keramaian dengan sebungkus kado yang harus aku gendong pahitnya. Sebab manisnya akan menjadi senjata paling tajam yang sengaja Tuhan tancap pada kedua bola mataku.

Membiarkan gelap menguasai sudut pengelihatan. Menghilangkan wajah ibu yang masih kentara pada dinding – dinding mata. Jika Tuhan hendak membunuhku, maka ia akan meracuni aku dengan keheningan paling sinis yang belum pernah aku nikmati. Bila sampainya aku mati, paling tidak ingatanku tentang ibu masih hidup dibalik kematianku.


Yogyakarta, 2024

Sumber gambar; pxhere

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai