SAN

Bab 2.

Waktu menunjukkan akhir pekan. Demi melepaskan segala penat yang dipikulnya. San dan beberapa kawan-kawannya dalam dunia malam memutuskan untuk ke pantai yang dihiasi oleh butiran-butiran pasir putih dan laut yang begitu bersih.

Memakan waktu sekitar empat puluh lima menit, tujuh detik untuk tiba di sana. Riang tawa berhamburan menyelami suara ombak di pantai.

Disana juga terdapat beberapa komplotan kaum borjuis yang sedang menikmati keindahan duniawi. Akasti Pamungkas salah satu diantara mereka yang lebih memilih menyaksikan ke lima perempuan malam yang sedang riang gembira dibawah terik matahari.

Tatapan tajamnya dari kejauhan lebih terarah pada San. Seorang lelaki paru baya dengan segala macam bentuk kesenangan selalu menghampirinya. Dari matanya terlihat dengan jelas bahwa dia menginginkan San.

Hasratnya diputuskan karena harus mengikuti pertemuan dengan beberapa tokoh Borjuis yang lain .

” Hei Tuan. Ayo kita mulai agenda kita”. Ajak Dano, yang merupakan salah satu dari komplotan Borjuis tersebut.

Dengan dingin dan senyum yang tipis Akasti Pamungkas mengiyakan ajakannya.

Ketika bibir pantai dipenuhi sorotan jingga dari aroma senja. San bersama kawan-kawannya harus meninggalkan tempat tersebut.

“Ayo bersiap cantikku. Ada yang sudah menunggumu di kejora hotel”. Ucap Mami Rosa Pada Alena.

Alenapun bergegas menuju kejora hotel. Setibanya disana Alena ditantang adrenalin seksnya.

“Saya membelimu dalam satu malam dengan angka yang tinggi. Saya ingin hal baru darimu”. Ucap OM Bimo.

” Apa yang harus saya perbarui ? Kecepatan Goyang ? Volume desahan ? Atau apa ?” Tanya Alen

“Saya ingin di Lobi”. Jawab Om Bimo sambil berjalan keluar dari kamarnya.

Hal yang baru bagi alena. Tapi ia tidak punya kesempatan untuk menolak. Lantaran tugasnya adalah melayani.

Lobi seperti sudah dipersiapkan oleh pemilik hotel tersebut yang tidak lain ada OM Bimo itu sendiri. Keduanya melakukan seperti berada didalam ruang yang tertutup. Menikmati dua aroma parfum yang bertengkar dibalik desahan yang berbunyi hingga pada aura klimaks memukul di ujung kepala.


Tidak jauh dari kejora hotel. San juga sedang melakoni tamunya yang merupakan kolega dari om Bram tamu San sebelumnya.

Keduanya melakukan dengan keadaan sejuk tanpa dikejar sampai dering detik waktu tiba persis pada 23.00.

“Tugas saya selesai” ucap San sambil bangun dari ranjang.

” Ada kenikmatan tersendiri dari dirimu . Nanti saya hubungi lagi. Ini untuk mu . Sisanya ambil saja”. Ucap Tamu San.

Dengan tatapan kecil setelah mengenakan kembali gaun ungunya San mengambil amplop tersebut dan meninggalkan kamar 712.


Bersambung

Penulis : ( adyputrahandika )

Sumber gambar; Pixabay

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai