Bab 1
Dibawah tatapan siang yang terik, dibalik bangunan tua yang dikelilingi rayap. Seorang perempuan berpakaian serba terbuka terbangun dari ranjang kumunya. Mirsa Santika.
Hampir semua orang menyebutnya dengan San. Seorang perempuan yang sebenarnya terlahir dari keluarga yang serba ada. Nasib pilu terlalu cepat melandanya, kendati Ayahnya yang merupakan investor ternama harus mati dengan dua peluru di dada. Ditembak oleh pembunuh bertangan dingin.
Kejadian yang sangat misterius, lantaran ibunya menghilang tanpa satupun jejak yang tertinggal. Peristiwa luka beberapa tahu silam selalu menjadi sarapan pagi dibenak San.
Dipaksa hidup dengan setengah nafas. Dipaksa jalan dengan kaki pincang. San memilih dunia malam demi keberlangsungan kehidupannya.
Ditengah lamunan yang khusu. Mengingat kembali masa kecil yang penuh tawa bersama keluarganya san diganggu oleh dering telepon yang berbunyi.
” Halo, Mom” sambut San
” 19.30 di Lumbung Hotel.” Ucap Mami Rosa dengan singkat.
Tanpa panjang lebar Mami Rosa yang merupakan Ibu asu bagi para perempuan malam mematikan telfonnya.
Dengan gaun merah dan alas kaki yang tinggi. San tiba di Lumbung Hotel lalu menghampiri seorang lelaki hidung belang yang sedang berdiam diri di kamar 203.
Tok tok.
“Masuk” . Ucap Om Bram . Seorang konglomerat yang sedang menunggu San.
“Selamat Malam. Maaf aku telat 3 menit.” Ucap San
“Saya maklumi.” Jawab Om Bram sambil beralih menuju San.
Dengan jemari yang terlatih menari dibelakang telinga Om Bram. San memulai tugasnya. Hingga disambut dengan liar oleh Om Bram. Bergegas dan berlanjut ke ranjang.
Hingga kembali terbitnya fajar. OM Bram bangkit dari kelelahan lima rounde bersama San. San sudah lebih dulu meninggalkan Si konglomerat tersebut.
Dilain tempat, ditengah kesesakan kota ada seorang anak kecil sedang menggigil diterpa hujan angin. Kota lagi diguyur hujan. Seisinya berhamburan dihajar angin kencang.
Nardi Caraka. Lelaki dengan kemeja putih berlengan panjang menghampiri si boca yang sedang menangis ketakutan seorang diri.
” Ayo…. Siapa namamu, dek ?” Tanya Caraka sembari menggendong si boca menuju emperan tokoh.
Tanpa satu katapun. Si boca itu hanya dengan irama tangisnya yang bersedu-sedu.
Tidak menunggu lama. Caraka menggendong si kecil yang sedang dalam keadaan lemas kedinginan menuju ke Mobel hitam kepunyaannya. Dipertengahan jalan si kecil itu sudah tidak menyadarkan diri.
Pada sebuah istana yang megah si kecil itu terbangun dan melihat ke arah Caraka yang terlelap pada sebuah sofa. Dengan nada yang ragu. Si kecil itu mencoba memanggilnya.
“Bang.” sapa boca itu.
Caraka tersadar. Dan langsung tersenyum pulas akhirnya si kecil itu baik-baik saja .
“Alhamdulillah sudah sadar kamu. Siapa namamu ? “. Ucap caraka.
“Lana, Bang.” Jawab si kecil itu.
“Dimana rumah mu ?” Sambung caraka
“Di setiap emperan tokoh”. Jawab Lana dengan keadaan lesu.
“Aku hidup sebatang karang. Dengan sebuah ukulele yang baru saja dirampas pengamen yang memiliki postur tubuh yang besar. Ukulele itu peninggalan ayahku. Ayahku meninggal ditabrak mobil setahun yang lalu dihadapanku sendiri. Sedangkan ibuku diperkosa oleh sekelompok orang yang tidak saya kenal lalu dibawah entah kemana.” Sambung Lana dengan ekspresi sedihnya.
Dalam keadaan yang penuh rasa iba. Caraka mengajak Lana untuk tinggal bersamanya.
” Sudah tidak usah bersedih. Tinggal saja bersama ku. Anak seusiamu belum layak untuk dibenturkan dengan dunia pekerjaan. Seharusnya kamu sekolah dan belajar”. Ucap caraka sambil berlutut mengelus kepala Lana.
Dibenak Caraka adalah betapa kejamnya kehidupan untuk anak seusia Lana.
Bersambung.
Penulis ; ( adyputrahandika )
