Hilang Dan Pergi

( adyputrahandika )

” Aku tidak ingin mencintaimu dengan penuh kekurangan ku” . Ucap Mona yang sedang bergegas pergi meninggalkan Kekasihnya.

Bertahun-tahun hidup saling menukar cinta. Bahwa setiap detik yang berbunyi adalah tawa mesra dari Madi Dan Mona . Tapi tidak berlaku di sudut langit Selasa waktu itu.

Dibibir pantai yang romantis, irama cinta Madi menjadi berantakan. Mendengarkan Mona bercerita bahwa ia merupakan perempuan malam, Madi seperti sedang berdiri diatas bara luka paling merah.

Mona yang sudah tidak tahan menutupi semuanya hanya bisa memulainya dengan “Tuhan, tidak pernah menyia-nyiakan ketulusan seseorang” .

Madi yang tidak bisa membaca tanda bahwa perkataan Mona adalah pintu malapetaka bagi cintanya. Ia hanya bisa menanggapi dengan ” Dan bahkan tuhanpun tahu tentang ketulusan kita “.

Dengan wajah cinta paling sempurna Mona hanya berkata “Kau terlalu baik untukku miliki. Kehadiranmulah yang membuat aku tidak pernah paham tentang takdir Tuhan untukku”.

Madi seketika dibuat melayang dengan setiap kalimat yang terucap dari Mona .

Dengan senyum lebarnya Madi, Mona memulai ceritanya dengan air mata .

” Dua tahun sebelum kita bertemu, Ayah dan Ibuku berpisah. Kenyataan pahit yang melandaku membuat aku tidak ingin bertemu dengan kedua orang tuaku . Aku memutuskan untuk pergi dari Rumah dan memulai kehidupan baru di Kota ini. Yang aku punya hanyalah kehormatan yang bisa aku uangkan demi keberlangsungan kehidupanku”.

Sebelum lanjut bicara, Mona mengangkat kepala dan melihat Madi dengan Air mata permohonan maaf. Lalu berkata “Pertemuan kita hanyalah untuk mengisi kekosongan waktu satu sama lain. Tapi aku mencintaimu lebih dari aku mencintai segalanya. Hanya saja Tuhan terlambat mempertemukan kita.  Aku sudah terlanjur dalam keadaan seperti ini. Semakin aku memaksa untuk mencintaimu semakin aku berani untuk mempermalukan Tuhan”.

“Kehormatan perempuan tidak harus ditentukan dari setetes darah perawan. Ketulusan hati adalah mahkota perempuan paling berharga “ . Ungkap Madi sembari mantap mata Mona.

” Aku tidak bisa mencintaimu dengan penuh kekurangan. Kau selalu ada disaat waktu lelahku. Lantas apa iya aku harus membayar dengan sisa pemakaian orang lain ? Cinta ku begitu besar. Tapi tidak bisa ku lanjutkan. Sekali lagi aku tidak bisa mencintaimu dengan penuh kekuranganku”. Dengan mata yang merayakan luka Mona meninggal Madi dihadapan senja kala itu.

Madi hanya bisa menyaksikan nada luka paling merdu dengan sesak yang mengetuk dada.

Sebab Mona harus pergi dengan prinsip di kepala, tidak ada cinta yang harus tumbuh dilahan yang penuh kekurangan.

Empat ratus delapan puluh tujuh detik. Setelah meninggalkan Madi dibawah lindungan jingga. Sudut ingatan Mona masih dikuasai Madi. Ketika ia sedang melayani tamunya, gairah Mona untuk bercinta seolah-olah hilang begitu saja .

Hari terlewatkan dengan penuh lara. Madi berlinangan air mata didalam setiap sajak – sajaknya yang menghujani media sosialnya.

Tidak ada pertemuan lagi setalah itu. Kehilangan benar-benar ada ketika Madi mendapatkan kabar bahwa Mona telah mati kecelakaan. Dipaksa gugur sebelum tumbuh, Madi betul-betul terpuruk.

Kehilangan tetaplah Kehilangan. Kenangan akan tumbuh dipermukaan waktu. Rindu adalah temu yang terlalu jauh untuk dipeluk.

Tuhan, Aku tetap mencintai Mona. Telan Madi

Bersambung.

Sumber Gambar; jpcc resources

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai