𝐒𝐔𝐀𝐑𝐀 π‹π€ππ†πŠπ€H

( adyputrahandika )

Wolipop – detikcom

( hlm 1 )

Kita terlahir sebagai pejalan dengan kaki yang rapuh, menghitung kembali jejak-jejak luka secara satu-persatu ; tentang sepasang bola mata yang saling berteduh hingga secangkir kehilangan yang harus kita teguk.

Pahit, asin, dan sederet rasa yang yang tidak pernah kita temukan sebelumnya telah bersentuhan dengan aroma kopi dan jagung titi yang kita nikmati hampir setiap malam dikala itu.

Beberapa tahun silam kita begitu mesra dalam dekap waktu. Menukar tawa dengan segala manisnya senyum lalu menyulam kasih dengan tatapan paling gelap yang mencium langit.  Hingga Tuhanpun tak mampu merasakannya

Aku mengenalmu sebagai perempuan yang menyimpan kehormatannya dibalik sarung tenun. Meminta tawa kecilmu yang selalu kau sandarkan pada pangkuan seorang ibu. 

Perjalan panjang yang kita lewati dengan janji paling tinggi selalu menjolok disele-sela awan yang sedang menari di atap semesta. Membisik dengan hati-hati pada gendang telinga, hingga melaju pada puisi dengan bibir yang sedikit rapat pada sajadah. Ditengah tangis perlawanan masyarakat pesisir pantai, Tuhan menjawab setiap doa kita. Sampai kita lupa jalan pulang.

π™±πšŽπš›πšœπšŠπš–πš‹πšžπš—πš

Yogyakarta, 2024.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai