( Dari senyum selebar-lebarnya sampai tangis yang tak bisa dihindarkan )
Dua insan yang makin larut dalam tengkar yang tak berkesudahan. Egoistis selalu menjadi akar atas pisah yang tak pernah direncanakan. Tangis demi tangis hadir secara bertahap. Kisah yang tersulam selama lima tahun dipaksa untuk dilupakan dalam sehari . Gila,,, insan mana yang sekuat itu. Bahkan itu tidak pernah terlukis dalam peristiwa manapun.
” Saya mencintaimu tanpa batas “. Asas yang memiliki legitimasi yang kuat dalam jiwa lelaki yang selalu membasuh darah yang bercucuran dalam batin.
” Saya mencintaimu sebagaimana perempuan pada umumnya yang ingin dihargai “. Prinsip yang mengakar dalam jiwa perempuan yang memutuskan semuanya harus berakhir tanpa alasan. Tapi diam-diam dia mengintip kesibukannya dibalik media .
Perbedaan selalu menjadi alasan mengapa semuanya harus kandas ditengah langkah. Jika pertemuan menghadirkan tawa maka perpisahan sudah seharusnya menyajikan lara. Wajibnya cinta harus demikian.
Yang tertanam dihati perempuan yang pernah disebut “kekasih” tinggal dendam dan kenangan kelam. Dan yang tertancap di batin lelaki yang pernah disebut “Sayang” cuman darah yang membekas.
Setidak-tidaknya bekas itulah yang mencatat kalimat cinta yang dipaksa untuk titik.
_Yogyakarta – hari ini._
Handika Lamadike
