Bagian Satu.
( Sebut Saja Pantai Dan Warung Kopi )
(adyputrahandika)
Suatu sore, petang yang membawamu pulang dari deretan jingga yang menari pada dekapan ribuan bola mata yang enggan melepasmu pada barisan gelap yang berjejer seolah-olah menyerang semesta secara brutal.
Sebagai salah satu diantara sekian pemuda yang menikmati keindahan-mu maka sudah seharusnya kekaguman demi kekaguman keluar secara perlahan. Itu yang ada dibenak-ku.
Hingga sedetik menuju adzan magrib, kau menyudut dan menepi pada pendopo yang lapuk. Menikmati secangkir kopi dengan sebuah novel ” Gadis Pantai ” dan sebatang kretek yang kau jepit diantara jari telunjuk dan tenga. Dengan jelitanya kau tegak-kan keparasan-mu ditepi pantai dengan deru ombak yang menakar pada permukaan pasir.
Beberapa menit setelah magrib. Kita kembali bertemu tanpa duga di warung kopi ” Cita Rasa “. Dan bahkan aku masih saja larut dalam hayal tentang dirimu.
Dengan sedikit Melihat kondisi warkop yang padat dengan pengunjung dan bahkan tidak menyisahkan satu meja-pun untuk kau tepati. Sehingga kau yang tengah sibuk mengamat setiap sudut warung kopi dengan sedikit pesimis, akhirnya matamu tertuju pada bangku kosong dihadapan meja yang sudah lebih dulu aku tempati. Sedangkan aku yang sedang sibuk bersama segelas kopi dan pena serta buku kepunyaanku, kau ganggu dengan kehadiranmu persis dihadapanku.
” Bisakah aku duduk disini ?” Tanyamu dengan nada ayu.
” Ohiya, silahkan “ jawabku dengan sedikit tegang.
” Aku Lara “ sapa-mu. Sambil mengulurkan tangan kanan dan menduduki kursi yang kosong.
” Aku Dara “ Tandasku. Dengan menjabat tangan yang kau ulurkan.
Seketika kita sedikit kebingungan dalam menerjemahkan nama yang nyaris sama. Itulah mengapa adanya tawa kecil yang kita hadirkan secara bergantian sebelum hadirnya pertanyaan-pertanyaan baru secara berurutan.
” Salam kenal, Lara ” . Lanjutku pasca tawa.
” Iya, Salam kenal, Bang Dara “. Responmu dengan dilanjutkan senyum manja.
Itulah mengapa aku percaya, perkenalan adalah awalan untuk mengetahui segalanya.
Ditengah-tengah perkenalan. kita di didatangi pelayan yang mengantarkan kopi manis pesananmu.
” Kopi Hitam, Mba ? “. Tanya pelayan
” Iya, Mas ” . Singkatmu.
Setelah menyajikan kopi pesananmu, ia lanjutkan dengan ” Selamat menikmati nikmatnya kopi di warkop cita rasa “. Pamit pelayan.
” Suka kopi ?” Tanyaku selangkah kepergian pelayan.
” Aku juga suka baca, nulis dan diskusi. Rokok dan kopi hanya sebatas teman perjalananku “. Jawabmu.
” Ngeriiiiii. Diantara semua perempuan yang suka healing. Cuman dirimu yang cinta terhadap rokok dan kopi “. Pujaku.
” Hhhhh. Cinta, cinta, dan cinta. Kenapa harus cinta ? “ Tanyamu setelah seteguk kopi yang masuk dalam rongga mulutmu.
” Apa yang terjadi merupakan kehendak cinta. Ketika dirimu memilih rokok dan kopi sebagai teman jalan. Kalau bukan karena kecintaan kau terhadap rokok dan kopi, lalu apa namanya “. Jawabku. Setelah membakar sebatang rokok.
” Hmmmm. Berarti cinta mampu menghendakan segalanya. Apakah semua kebijakan pemerintah yang kontradiktif terhadap rakyat itu juga dikatakan cinta ? Atau seorang lelaki yang mengejar perempuan karena kecantikan itu juga yang dinamakan cinta ? Jika demikian, mengapa cinta harus beraroma materil seperti uang dan kekuasaan yang digilakan oleh pemerintah serta kecantikan yang menjadi sorotan lelaki. Mungkin seperti anda. “ Tandasmu. Dengan dilanjuti. ” Pinjam koreknya, punya saya jatuh tadi dalam perjalanan ke sini “.
Respon yang membangkitkan cakrawala berpikirku.
Setelah sebatang rokok yang kita bakar secara bergantian. Aku mencoba untuk merasionalisasikan maksudku.
” Saya kira power cinta tidak serendah itu. Yang saya pahami kekuatan cinta adalah ketulusan yang mampu menghendaki segalanya. Seperti yang dimaksudkan oleh dirimu hanyalah kesewenangan yang mengatasnamakan cinta “. Jelasku.
” Menarik. Saya cukup merasa tertantang dengan romantisme dialegtika kali ini. Tapi sayangnya saya gak bisa lama disini. Saya harus pergi. Masih ada urusan urgent. ” Pamitmu sembari meneguk kopi yang kedua kalinya.
” Semoga bisa ketemu dilain kesempatan “. Responku.
” Tuhan sudah merencanakan semuanya. Entah ini sebagai awal dan terakhir pertemuan kita atau masih ada lain kesempatan yang masih menjadi rahasianya. Marii,,, saya duluan. “ Ujarmu sembari berkemas untuk beranjak.
” Hati-hati “. Jawabaku yang kau sambut dengan senyum.
Setelah kau beranjak dari cita rasa. Aku sibuk memungut segala tafsiran tentang momen saat ini . Tentang bayanganmu yang larut dalam sisa kopi yang kau tinggalkan dengan dua tegukan. Tentang tawa mungil yang hadir sabagai penutup dari apa yang kau bicarakan.
Bersambung.
( Selanjutnya di bagian ke dua dengan judul yang berbeda )
