(HL)
Ina, kita adalah sesama makhluk cinta yang memilih melantunkan hiruk-pikuk kehidupan di Yogyakarta. Sehingga apapun tentang Jogja, begitupun tentang kita. Yang menjadi pembedanya, tentang kau adalah Flores yang tak pernah layu, sedangkan tentang aku adalah sembur paus yang muncul pada musimnya.
Ina, kita adalah orang asing yang menaruh belas kasih pada ujung cakrawala kehidupan. Meminta untuk dikasahani oleh jarak yang melibatkan daratan dan lautan. Kita membelai waktu dan memohon ampun pada rindu. Seakan-akan yang menghantui kita adalah tentang kampung halaman. Demikianlah kita.
Disaat waktu berjalan begitu adanya. Kita tersadar dalam dekapan Yogyakarta, tentang nasih kucing yang tersaji di angkringan, tentang alunan angklung yang mengiringi enam puluh detik lampu merah, dan sejenis lainnya.
Kita tertatih dalam drama kehidupan tentang masing-masing diantara kita . Kau dibelai cinta dari jarak yang melewati lautan lepas oleh kekasihmu. Aku merintih, menahan, segala rasa yang bermunculan tanpa aku kehendaki.
Hari berlaju begitu tak terhingga pada waktu menunjukkan aku harus memujimu sebagai ratu dalam setiap bait yang aku tulis. Dan bahkan awal mengenalmu saja, aku lupa bagaimana mendeskripsikan keindahan tanah kelahiranku. Kau mengubah isi otakku, dan bahkan arah tulisanku.
Tidak ada keburukan tentang-mu yang terpampang disini, Ina. Aksara-akasara kepunyaanku tak setega itu. Dan bahkan aku kehabisan kata-kata untuk memujamu lebih lanjut.
Sekian

( adyputrahandika )