(HL)

Literasi merupakan salah satu tradisi yang seyogianya tidak bisa dilepaskan didalam Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhamadiya atau sering di kenal dengan IMM. Sebab hal tersebut merupakan fondasi dari nilai-nilai intelektualitas yang merupakn salah satu poin didalam tri kompetensinya Ikatan Mahasiswa Muhamadiya itu sendiri. Meskipun tuntutan zaman yang menghadapkan kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dengan perkembangan teknologi komonikasi yang sangat berkembang tetapi yang menjadi ketakutan saya adalah adanya penyalagunaan terhadap pekembangan teknologi yang ada, yang hanya mengakibatkan kader larut didalam roamntisme perkembangan teknologi yang berdampak negatif.
Dan IMMawati merupakan salah satu bagian terpenting didalam Ikatana Mahasiswa Muhammadiyah sebab hadirnya IMMawati sebagai pendamping dari IMMawan dalam menjalankan roda organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Karena tidak bisa kita nafikan bahwa kaum perempuan diciptakan Allah SWT di dunia agar hidup berdampingan dengan laki-laki dalam mencapai tujuan bersama, begitupun dengan IMMawati dan IMMawan yangharus berdampingan demi mencapai tujuan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Seperti yang dikatakan oleh orang-orang bahwa perempuan merupakan “rahim peradaban”, istilah ini merupakan salah satu identitas yang selalu diberikan kepada perempuan. Dan IMMawati yang merupakan gelar yang diberikan kepada perempuan-perempuan yang ikut andil didalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah harus mampu menjadi “rahim peradabannya kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah “, Maka dari itu immawati juga harus mampu memposisikan diri dengan baik agar dapat memberikan kontribusi terhadapan perubahan kader yang lebih produktif dan yang lebih baik.
Ketika memilih menjadi rahim peradabannya kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah maka tidak boleh merasa asing dengan perihal literasi. Karena dengan literasi IMMawati bisa membangun pemahaman yang nantinya akan disalurkan kepada kader. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis untuk IMMawati. Tetapi yang menjadi pertanyaannya sejauh ini sudah sedekat apa IMMawati dan Literasi ? Pertanyaan seperti ini yang harus direnungi oleh IMMawati. Karena terkadang tidak bisa dipungkiri yang sering kali terjadi kurangnya kontribusi dari IMMawati terhadap arah geraknya IMM dan juga memudarnya tradisi literasi yang mungkin terkikis zaman. Tidak semua IMMawati yang menikmati keterkenalan mereka tetapi apalah artinya IMMawati-IMMawati yang sudah memiliki kesadaran tetapi tidak bisa menyadarkan IMMawati yang lain dalam perihal literasi. Dan mengapa diantara sekian banyak IMMawati yang didalam ikatan hanya IMMawati-IMMawati tertentu saja yang memiliki kesadaran literasi ? Faktor apa yang menyebabkan ? Apakah Kurang fasilitas dari organisasi atau kurangnya dorongan dari IMMawan ? Melihat realitas yang terjadi sekarang kuantitas IMMawati terkadang mempengaruhi kualitas, karena banyak IMMawati yang hanya bergelar IMMawati namun tidak memahami peran dan Identitasnya sebagai IMMawati.
Literasi dan IMMawati merupakan pilar dan kekuatan yang harus dirawat didalam Ikatan Mahasiswa Muhamadiya. Sebab keduanya memiliki subangsi yang besar terhadap pergerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau IMM itu sendiri. Literasi harus bisa dirawat sebagai tradisi yang bisa menjunjung tinggi nilai intelektualitas dan IMMawati memiliki tugas besar untuk turut serta mendorong terhapusnya tindakan yang menyebabkan terciptanya dinding penghalang bagi potensi perempuan dan ikut serta dalam menciptakan kader-kader yang berintelektual. Maka dari itu tidak boleh ada jarak antara Literasi dan IMMawati.
Sebagai akhir dari tulisan ini saya mengharapkan ada kritikan dihadirkan oleh para pembaca terkhusus IMMawati sebagai representasi dari rasa cinta kita sebagai pelaku Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Sebab dengan cinta saya hadir bersama tulisan ini, ketiadaan cinta kamipun tidak ada.
Waallahu Alam.